Berita KPK : Sarasehan untuk Lawan Budaya Korupsi
Jumat (9/12) malam, dalam rangkaian peringatan hari antikorupsi internasional, suasana kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terasa lain. Area parkiran disulap menjadi panggung yang diisi dengan bangku-bangku yang ditata melingkar. Dengan pencahayaan samar, sambil menikmati suguhan wedang jahe dan angkringan, para undangan dari kalangan budayawan, praktisi, pekerja seni yang akan mengikuti acara Sarasehan Budaya tampak membaur saling bercengkrama. Tampak hadir Taufik Ismail, Slamet Rahardjo, Arswendo Atmowiloto, Mohammad Sobari, Sudjiwo Tedjo yang tak sungkan menyapa para wartawan dan pegawai KPK.
Dengan gayanya yang kritis dan jenaka, Arswendo yang didapuk menjadi pemandu acara malam itu, tampak akrab menyapa dan meminta para tokoh budaya untuk memberikan orasinya. Saat tiba giliran Taufik Ismail, bukan orasi yang dibawakan, namun sebuah puisi berjudul “Mencari Sekolah yang Mengajarkan Rasa Malu”. Dalam puisi tersebut Taufik mengkritisi adanya fenomena sekolah yang dewasa ini tidak mengajarkan rasa malu, misalnya ketika murid menyontek, guru pura-pura tidak tahu, ketika UAN ada guru-guru yang ditugaskan untuk memberi jawaban ujian, dan juga ada sekolah yang mengharuskan seratus persen siswanya lulus dengan segala cara.
Tidak berbeda dengan Taufik Ismail, aktor sekaligus budayawan Slamet Rahardjo juga membacakan puisi karya Rendra. “Saya kagum dengan mas Rendra. Pada tahun 1977 sudah membuat “Pantun Koruptor” yang hingga sekarang masih relevan,” katanya.. Salah satu bait di pantun itu berisi tetang kritik terhadap hakim dan jaksa yang bisa diajak kompromi karena koruptor memiliki akal panjang.
Acara Sarasehan Budaya sengaja diusung KPK menjadi puncak acara peringatan Hari Antiorupsi Internasional yang jatuh setiap 9 Desember, dengan pemikiran bahwa untuk melawan perilaku-perilaku korupsi yang sudah membudaya ini, dibutuhkan budaya antikorupsi. “Pendekatan budaya kita pilih karena budaya bersumber dari dua unsur pokok, yaitu hati nurani dan akal budi,” ucap Wakil Ketua KPK Haryono Umar, saat membuka acara. “Kita berharap dalam acara sarasehan budaya akan timbul dialog yang dapat menjadi titik tolak dan cara berpikir, berbuat, dan berperilaku untuk mewujudkan kesadaran kolektif kita memberantas korupsi, ” lanjutnya.
Menurut Haryono, kehadiran tokoh budayawan, praktisi dan pekerja seni dalam sarasehan budaya ini menjadi penting sebagai pemicu kebangkitan bangsa Indonesia yang benar-benar berbudaya dan bermartabat.
Sumber : http://www.kpk.go.id